Kereta Uap Modern
December 10, 2011
Rokok kanan. Rokok kiri. Di mobil, di pinggir jalan.
Jadi ingat presentasi temen tentang smoking room.
“Kami menawarkan smoking room yang mendidik, jadi kami bikin sarana yang mendukung perokok untuk merokok, namun membuat perokok tidak betah berlama-lama di sana untuk merokok. Caranya, tidak disediakan tempat duduk.”
Ada yang bertanya, “Berarti perokok masi punya pilihan buat merokok di luar dong, soalnya di luar lebih enak, bisa duduk seenaknya.”
Nah lo nah lo.
Rokok kanan. Rokok kiri.
Udah kayak kereta api uap aja dimana-mana. Kereta uap yang terminalnya dimana-mana. Ga ada rute yang jelas juga.
Coba diganti sama permen karet. Ah, tapi nanti jadi ada lapangan ranjau dimana-mana.
Ang Sang – Antara Hidup dan Mati
August 23, 2011
Kejadian ini terjadi kemarin, 22 Agustus 2011.
Waktu : sehabis berbuka puasa, kira kira jam 6.
Lokasi : Halaman belakang rumah.
Kronologi cerita :
Waktu berbuka telah tiba.
Pembantu saya minum teh untuk berbuka.
Tiba-tiba anjing saya melolong, menggonggong juga.
Awalnya tidak dihiraukan, hanya penanda malam tiba.
Namun terasa sesuatu yang aneh.
Anjing satu lagi menggonggong juga, memberi kode morse kepanikan.
Tiba-tiba terdapat suara lengkingan, namun hanya saya yang dapat mendengarnya.
Saya ke halaman belakang rumah saya, mendekati daerah anjing saya.
Anjing tersebut merasakan kehadiran seseorang disebelahnya, dan terkejut, lalu berkata, “lihat kesana.”
Giliran saya yang terkejut. Ternyata dia hanya melihat saya, lalu melihat ke depannya. Saya terlalu imajinatif.
Suara lengkingan terdengar kembali. Saya menoleh ke asal suara. Kira2 di daerah selokan.
Ternyata lengkingan itu berasal dari bayi. Bayi kecil yang terjepit di selokan kecil.
Selokannya cukup dalam. Tangan siapapun tak masuk kedalam. Selokannya berupa pipa yang langsung menuju selokan besar yang ditutupi jalan. Sekali bayi itu masuk ke selokan besar, tak ada cara untuk menyelamatkannya.
Satu-satunya cara ialah menghisap bayi itu dari pipa yang memiliki bukaan.
Malam mulai menelan. Ibu, adik, dan pembantu saya mulai membantu mencari bukaan lain tempat masuknya air pada pipa. Ada satu disebelah kandang anjing. Satu lagi didalam tong sampah.
Percobaan pertama. Menggunakan penghisap kloset. Tidak terjadi apa-apa.
Percobaan kedua.
Dipanggil. Yaoloh ga mempan kali.
Percobaan ketiga. Pakai pencapit. Yang ada si bayi semakin menangis.
Kami mulai putus asa. Haruskah kami tinggalkan dia mati kedinginan di pipa kecil yang dingin itu?
Saat itu muncul ide.
Mengguyurnya dengan air supaya hanyut di lubang pipa yang satu, lalu ditangkap di lubang pipa satu lagi.
Satu-satunya harapan dan jalan keluar yang bisa kami pikirkan.
Hanya ada satu kesempatan.
Hasilnya pun hanya dua, tertangkap atau hanyut ke selokan besar dan mati.
Kami berdoa dahulu, berharap yang terbaik yang terjadi.
Eksekusi dimulai.
Seember air mulai dituangkan ke dalam pipa itu. Bayi yang menangis itu tiba-tiba diam.
Terdengar suara yang terdengar seperti orang kelelep.
Kami panik. Tuangan ember dihentikan.
Pembantu saya masuk kedalam tempat membakar sampah, menunggu kedatangan si bayi. Saya dengan berani meminta ibu menuangkan kembali.
Pembantu berteriak, “kepalanya dapat!” Kami langsung mengerubungi pembanti saya.
Atur napasnya bu, tarik napaas, keluar. Tarik napaaas, keluar.
Akhirnya bayi dapat ditarik keluar. Kotor. Basah. Kedinginan.
Masih ada air hangat sisa untuk membuat teh. Kami mandikan bayi itu. Kami handuki bayi itu.
Bayinya hitam sekali. Matanya belum membuka. Berkaki empat.
Bayi tikus?!? Tau gitu dibuang aja. Ternyata bukan.
Bayi anjing yang menyebabkan seluruh anggota keluarga kami datang dan berusaha menolongnya dengan cara apapun. Bayi anjing yang telah mengajarkan kami untuk tidak mudah menyerah untuk bertahan hidup, atau menunggu ditolong.
Karena bayi anjing itu juga pembantu kami naik pangkat menjadi pahlawan.
Kami sekarang menamakan anjing itu Ang Sang, nama yang sangat sesuai. Karena dia nyangsang di selokan.
Tangisan Nasionalisme : Hebat atau Cengeng?
August 17, 2011
Saya adalah mantan anggota paskibra. Waktu SD saya selalu bangga pakai seragam putih-putih, slayer merah, sarung tangan putih, peci, kaus kaki putih dan sepatu hitam. Entah jadi conductor, pemegang bendera, pembaca UUD, ataupun protokol. Bahkan saya pernah memakai seragam putih-putih walaupun tidak disuruh. Jadilah saya anggota pasukan yang tertolak. Tapi saya bangga.
Masa SMP. Saya sudah tidak aktif lagi menjadi anggota paskibra. Saya aktif main angklung, tapi beda topik. Tapi saya tetap bangga, soalnya saya bisa tahan pegal-pegal kaki lebih lama. Saat yang lain pingsan, saya bingung kenapa mereka begitu lemah. Hmh.
Saat itulah saya baru sadar bahwa teman-teman saya kurang menghargai dan memahami arti dari bendera merah putih. Satu saat ada teman saya yang cukup pendiam tapi pendendam diejek-ejek. Dia cemberut, lempar meja ( ini serius, meja kayu SMP yang tebal itu dia balik ), hentak-hentak kaki, dan.. cabut tiang bendera ( eits pikirannya. Nggak kok, bukan hulk. Tiang yang dimaksud adalah tongkat kayu yang ditancap di satu dudukan, dan diatas tongkat itu terikat bendera Indonesia ). Dia ambil ancang ancang lempar galah. Disaat itulah ujung kain bendera merah putih menyentuh tanah. Aku berteriak sekeras mungkin, berlari mendekatinya untuk mencegah bendera itu jatuh sepenuhnya. Dia tidak sadar akan apa yang dilakukannya itu buruk. Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Bukan, bukan karena dia memandangku dengan tatapan aneh, bukan juga karena abis diputusin. Aku menangis karena ujung bendera itu menyentuh tanah, tepatnya lantai kelas.
Masa SMA. Jiwa paskibra saya mulai luntur, meski saya masih bangga saya bisa tahan berdiri lebih lama daripada teman yang lain. Saat demo ekskul paskibra, ada yang menanyakan siapa yang pernah ikut paskibra sebelumnya. Saya acungkan tangan saya, bermaksud sombong. Dia mencatat nama saya. Namun baru setahun kemudian saya benar-benar diajak ikut paskibra lagi. Anggotanya sedikit, 5 orang. Seniornya, 7 orang. Namun saya merasa disitu saya bisa kembali merasakan kebanggaan mengikuti kegiatan upacara.
Sekarang kuliah. Sehari sebelum upacara 17 Agustus saya ikut seseorang ke acara pelantikan paskibra di SMA. Disana saya mendengar berbagai renungan yang diberikan para pelatih paskibra. Selesai renungan, mereka diperintahkan untuk hadap kanan, mata mereka tertuju kepada bendera merah putih besar yang menutupi pintu aula. Pemimpin paskibra memberi aba-aba hormat, dan lagu Indonesia Raya disetel di kaset. Saat itulah saya baru ingat.
Kebanggaan saya akan upacara dan bendera sudah benar-benar hilang. Tidak pernah lagi ada upacara saat kuliah. Tidak ada juga kegiatan paskibra setiap sore. Dengan backsound Indonesia Raya itu, saya kembali menangis. Bukan karena diinjak orang, bukan. Tapi karena saya ingat, betapa dulu saya bangga untuk melihat bendera Indonesia berkibar saja, hanya berkibar, bukan menjadi pengereknya, atau komandannya, atau pembawa bendera. Tidak. Melihat bendera merah putih berkibar di atas tiang sekolah, dengan siluet saya sedang mendongak menatapnya, sudut pengambilan bawah, itu adegan yang terjadi di dalam pikiran saya. Dan saya terus menangis sampai pelantikan selesai.
Adakah anak-anak yang merasakan hal yang sama juga dengan saya? Boleh merasa bangga atau tidak, tapi hal itu membuktikan bahwa kita masih punya perasaan. Perasaan cinta kepada tanah air.
Selamat ulang tahun, Indonesiaku yang sangat kusayang.
Feeling. Something that almost every women relied to.
The first impression of a man determine how he will become for, usually, forever to us. Women use their feeling at that time. Of course, a lot of things considered. Good-looking, the pure smile, attitude, and also how he reacts. Man, the skillful ones, used to have all of this to cover their evil side. But then again, women are very relying on the feeling. I once fell for a guy which has a good charisma at first, and he showed me how gentle he is to me. But as days go by, he showed his other side. I, maybe a lot of girls too, don’t care about it at first, until he finally showed his true-self : a playboy.
Sometimes, for a girl, I don’t know how about women in general, it’s really hard to lose, or as we usually said, forget, the feelings when we still loved him, and how until now, we still loved him, even though he’s not. Our world collapsed, only ice-cream and movies to accompany, bad day all day, and worst, the pain that felt really deep in our heart, it could buried us alive, with nothing to be grasped on.
But there are times where the true gentleman appear in our life. He showed all of his charms, but also showing, slowly, his flaws, telling us that this is him, whether you accept it or not. But not all of the gentleman are like prince. Their looks vary. I saw a guy once, the looks are scary, with tired eyes and dare-to-look-at-me stare, but when someone talk to him, the voice brings peace at mind. He smiled a lot, too. In this case, the “don’t judge the book by its case” applied. This kind of people rarely have a girlfriend, but once they do, you’ll never felt abandoned, even though you scared every time you look at him.
So, feeling of a woman isn’t right all the time.